Skip to main content

Pseudologia Fantastica Mental Disorder

Pseudologia Fantastica Mental Disorder - Pseudologia Fantastica Mental Disorder, penyakit yang diderita oleh orang-orang yang selalu percaya dengan kebohongan dari (dalam) dirinya sendiri. Juga kecenderungan takut untuk melihat bahwa orang lain juga bisa benar. Biasanya penyakit ini membesar karena ketakutan melihat fakta bahwa dirinya (kelompoknya) juga bisa salah.

Penyakit ini banyak di derita oleh orang-orang yang tertutup, penguatan fantasi (imajiner) tentang sesuatu terus dipertebal dengan meyakini bahwa orang lain selalu salah. Penderita penyakit ini juga mudah berbohong dengan tanpa merasa bohong sama sekali, kondisi ini biasa disebut Patologis.

Orang yang mudah terjangkit penyakit ini, biasanya karena ketidakseimbangan kecerdasan emosional dan kecerdasan rasional. Dan biasa ditemukan dalam kelompok-kelompok agama yang bersifat eksklusif.

Beberapa situs juga terindikasi dikelola oleh orang-orang dengan penyakit seperti ini, situs-situs ini memiliki konten negatif karena cenderung memprovokasi bukan memberi berita yang berimbang. Terlihat jelas informasi yang dimunculkan merupakan info sepihak tanpa keseimbangan.

Contoh situs yang bisa saya sebutkan; PKSPiyungan, PekaNews, Arrahmah.id, Gebraknews, Jalanews dan sejenisnya. Situs yang lebih tepat disebut sebagai blog, karena hampir lebih dari 80% berisi berita saduran, plintiran hingga opini pribadi.

Hindari situs-situs diatas, masih banyak situs lain yang lebih baik dan berimbang. Sehingga menyehatkan pikiran serta membangun aura positif dalam diri kita sebagai pembaca dan terhindar dari penyakit Pseudologia Fantastica Mental ini.

Salah satu obat paling manjur agar sembuh dari penyakit ini adalah berkumpul dengan orang baik dan berpikir positif, berkegiatan positif dan membuka pikiran untuk hal-hal baru serta mempelajarinya dengan lebih berimbang. Kalau anda orang yang ingin belajar agama Islam, bisa buka situs NU dan Muhammadiyah. Kalau anda orang yang tertarik dengan politik, maka perdalam literatur serta jaringan agar tidak hanya mengargumenkan asumsi tanpa data.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar