Islam Nusantara, Karena Surga Bukan Tempat Manusia

Belakangan ini tagline “Islam Nusantara” tiba-tiba ngetren, sesuatu yang sudah pernah ngetren sebelumnya jauh sebelum saya beranjak dewasa. Banyak sekali yang bergembira dengan munculnya jargon ini, dan juga banyak yang menentangnya. Sebagai orang NU yang juga pasti (insya Allah) akan datang di Muktamar nanti, saya melihat strategi pengurus besar NU sangat tepat memunculkan istilah lama dengan rasa baru sebagai tema Muktamar ke 33 nanti.

Semenjak kran kebebasan berpendapat terbuka dengan ditandai jatuhnya Soeharto (sayangnya tidak diikuti tumbangnya Orde Baru). Berseliweran pendapat-pendapat di media-media, apapun medianya. Internet sebagai sarana media yang murah, tentu menjadi sasaran pertama untuk dijadikan tempat “memasarkan” masing-masing pendapat orang. Orang-orang HTI yang sempat “mancal rem” karena takut dihajar sama Soeharto, bergegas keluar dengan berbagai macam ide teologis dan doktrinnya. Orang-orang Ikhwanul Muslimin (PKS), tak kalah gagah keluar dengan lebih berani dan mendeklarasikan diri untuk mengikuti Pemilu, dengan harapan bisa ikut “menjual” ideologinya melalui kursi kekuasaan. Orang-orang yang terkait dengan kejadian PKI baik pelaku langsung maupun tidak, mulai berani menuliskan argumentasi sanggahan terhadap stigma negatif yang sudah mengakar dibenak sebagian besar orang Indonesia. Orang-orang muda mulai berani memunculkan diri untuk ikut menjadi pemimpin daerahnya masing-masing, ditandai dengan kemunculan Joko Widodo, Risma, Basuki Purnama dan banyak lagi.

Semua muncul dengan gejolak masing-masing, besar kemungkinan terjadi gesekan baik dengan singgungan yang pelan maupun keras. Semua itu dibungkus dalam satu wajah yaitu Nusantara Raya. Inilah wajah Nusantara saat ini, wajah yang seharusnya damai dan mengayomi semua orang. Namun sayangnya kebebasan yang muncul saat ini memiliki efek dan imbas lain, yaitu munculnya penajaman perbedaan. Sangat disayangkan, karena perbedaan yang semakin ditajamkan ini justru terkait dengan perihal agama. Agama yang seharusnya menyatukan perbedaan, fleksibel mengantisipasi perbedaan, karena perbedaan merupakan Sunatullah. Banyak orang lupa bahwa “sangatlah mudah bagi Allah untuk menjadikan semua manusia di Bumi ini memiliki wajah yang sama, tinggi yang sama bahkan kelamin yang sama“.

Untuk alasan inilah (tentu masih banyak alasan lainnya), NU mengusung Tema Islam Nusantara untuk mengembalikan Islam yang lebih ramah dan toleran seperti yang sudah dijalani sejak dulu oleh para wali serta ulama-ulama zuhud terdahulu. Islam yang mendahulukan kesatuan penduduk Nusantara agar kedamaian serta kemajuan Islam semakin nyata di depan. Bukan Islamnya Arab yang gampang pecah, gampang marah, perang terus menerus dengan angan-angan surga. Tapi Islam kan hampir semuanya berbahasa arab, iya itu benar, tapi ketahuilah bahwa bahasa Arab dan bahasa Al Quran itu berbeda tipis, meskipun mungkin perbedaannya tipisnya setipis selaput dara.

Manusia diciptakan untuk menjadi Khalifah di Bumi, dan direncanakan menjadi penduduk di Surga. Maka bila manusia sudah berhasil menjadi Khalifah yang baik bagi diri masing-masing, lingkungan masing-masing dan Negaranya, barulah bisa menjadi penduduk Surga. Penjual ayat, pembenci perbedaan, makar dan manusia-manusia tidak baik lainnya, tidak akan pernah menjadi penduduk surga, kecuali Allah mengampuninya.

Pertanyaan saya, apakah Anda tahu kapan Allah mengampunimu?

Update 2015

Komentar