Skip to main content

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri atas Kasus Tolikara Papua

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri atas Kasus Tolikara Papua - Lebaran tahun ini, saat segenap umat Islam melaksanakan sembahyang idul fitri, terdengar kabar ada mushalla yang dibakar oleh orang-orang non muslim di Tolikara Papua. Kabar ini segera berubah menjadi kabar, melintas simpang siur dengan berbagai versi. Kabar ini entah mana yang benar dan mana yang salah. Semua mengikuti kemauan penulis maupun redaksinya masing-masing.

Situs-situs (yang menganggap dirinya) media pun tak mau kalah dalam memberitakannya. Semua memberitakan dengan gegap gempita, ada banyak situs yang mengabarkan dengan semangat mengobarkan peperangan, ada pula situs yang cenderung netral dan ada pula situs yang biasa-biasa saja menanggapinya. Mana yang benar? Wallahu a’lam.

Kasus mushola Tolikara Papua ini berpeluang menjadi disintegrasi bangsa, rentannya perpecahan ini dikarenakan masih banyak penganut agama yang hanya berpikir agamanya sendiri yang harus menang. Apalagi apabila merasa mayoritas. Penyakit “Mayoritas” ini penyakit hati yang sudah sangat umum. Di Amerika, orang-orang kristen memiliki penyakit ini. Dan karena di Indonesia mayoritasnya Islam, maka orang Islam yang memiliki penyakit ini. Penyakit yang harus menang dimenangi, penyakit yang merasa harus betul karena mayoritas dan sejenisnya. Penyakit hati.

Sayang dan sangat disayangkan, umat Islam belum mudah tergerak hatinya apabila atas dasar sosial. Sehari sebelum Idul Fitri dan sebelum kejadian (entah) terbakar atau dibakarnya Musholla Tolikara Papua, ada sekitar 26 kampung di 3 distrik yang beku terkena hujan salju dan penduduknya membutuhkan bantuan, dan itu terjadi juga di Papua. Berita tentang kejadian hujan salju ini semakin tenggelam begitu ada berita tentang mushola Tolikara Papua ini.

Tolikara Papua

Ini mencerminkan bahwa umat Islam yang seharusnya Rahmatan Lil Alamin, masih mementingkan gengsi ketuhanan semata. Belum terlalu peduli dengan urusan sosial yang juga sangat ditekankan oleh gusti Allah SWT. Karena hablumminnas lebih banyak disebut terlebih dahulu sebelum Hablumminallah. Entah sedang ada penyakit (selain mayoritas) apa orang-orang Islam di Indonesia ini, mereka sepertinya hanya mempedulikan dirinya sendiri, golongannya, kepentingannya dan sejenisnya.

Sebagai orang Islam, saya pun belajar berdamai dengan diri sendiri terkait kabar-kabar ini. Saya tidak ingin ikut terpanasi atau bahkan tanpa sadar ikut memanasi suasana yang bisa merusak tatanan sosial. Saya masih yakin, bila gusti Allah SWT ingin menunggalkan Islam di dunia ini maka sangatlah mudah buatNya. Namun kenyataannya Allah SWT memberikan banyak agama, suku, dan ras di dunia ini, artinya saya harus terus belajar untuk mengenali Allah SWT dengan segala hal yang diturunkanNya di dunia ini.

Update 2015

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar