Melamar Janda

Masih dalam suasana bahagia yang tiada terkira, aku duduk menongkrongi [bahasa halusnya apa ya..] komputer didepanku sembari membaui suasana baru di kantor kecil yang mulai terasa nyaman dalam penciumanku. Meski harus masih bersih-bersih sedikit ruangan ini, tapi sungguh sebuah perjalanan baru.

Sedikit kilas balik, dulu tahun 1999 aku masih berada di Pojok Beteng Wetan Jogjakarta dengan bersenjatakan gitar kumuh pemberian [rampokan sih sebenarnya] dari teman dikampung. Secara perlahan, aku dalami situasi Jogjakarta untuk bisa mengenal lebih jauh dan dimana aku bisa berusaha untuk lebih eksis disitu. Sembari kelilingan jualan batik ke kos teman-teman satu persatu. Namun dengan kesadaran sendiri, akhirnya aku harus mengakui bila Jogjakarta ternyata tidak cocok dengan kepribadianku yang ingin serba cepat dan lebih dinamis.

Tahun 2001, Jakarta menjadi tujuan selanjutnya. Begitu megah rasanya saat pertama kali sampai disini, betapa banyak sekali hal yang tidak aku ketahui dari hal kecil hingga besar. Selama ini terlalu lama aku berkutat akan diri sendiri, sungguh kerdil. Disini di Jakarta, kekuatan uang menjadi segalanya. Banyak pula keajaiban yang terjadi [menurutku loh].


Mulailah perjalananku dimulai kembali, menjadi pengamen bersama seorang teman. Dan hanya pindah tempat mengamen saja hehehe… Namun aku tidak mau kalah begitu saja, setiap kali selesai mengamen dan ada beberapa uang lebih maka buku adalah tujuan pertama. Masih ingat waktu itu aku membeli buku Photoshop seharga 45rb yang terasa sangatlah mahal bagiku. Sungguh terasa mahal, karena bisa untuk makan 3 hari bagiku. Pertama kali dapat Job untuk mendesain pun uangnya habis untuk menyewa komputer di warnet selama sebulan penuh. Ngos-ngosan tapi semangat. Order seharga 500rb langsung habis buat sewa jam di warnet.

Berangsur-angsur namun pasti, aku mencoba menambah jumlah teman dan tidak terbatas pada lingkunganku. Dengan penampilan rambut panjang serta baju acak-acakan, tetap saja aku dengan semangat memperkenalkan diri [tentu dengan pede]. Tak peduli apa pandangan orang, bagiku yang terpenting adalah kualitas dan mutu serta bagaimana kita bisa membawa diri. Meskipun masih tetap dengan sering menerima sakit hati karena pandangan orang akan rupaku yang slenge’an ini. Tetap saja tidak peduli, semangaaaaaaaaatt.

Dan here I’am, berdiri dengan tetap kepala menunduk serta hati merunduk. Sudah aku dirikan Taman Baca sebagai bentuk penghormatan akan diri sendiri yang dimana dulu sangatlah susah untuk mendapatkan bacaan bermutu.

Aduh rasanya kok masih nostalgia terus, lalu kapan menulis tentang motivasi atau apapun yang bisa dibagi untuk kebaikan? Insya Allah mulai besok. Salam.

Komentar