March 29, 2010 There’s a door without a promise.
Mari kita menjalani kehidupan ke depan dengan lebih baik, kenali dan pahami semua apa yang terjadi. Jadikanlah pijakan untuk berbuat lebih, bukan untuk kembali masuk ke dalam masa lalu. Seperti sepatah kata dariku “There’s a door without a promise, unless we open and make a promise after it”.
“Seseorang pergi berlibur ke Bali selama dua minggu, 13 hari pertama adalah sangat menyenangkan semuanya serba baik, dan ketika memasuki hari ke 14 dia sakit diare, perut sakit sehari sampai masuk rumah sakit. Setelah 5 tahun, memory sakit itulah yang dianggap paling buruk. Sehingga kemungkinan besar dia akan malas untuk pergi kembali ke Bali. Dan bila dia pulang pada hari ke 7, maka semua ingatannya hanya akan dipenuhi semua keindahan yang terjadi selama di Bali.
Begitupun orang yang bersahabat, selama 10 tahun semua perjalanan persahabatan itu terjadi dengan dengan baik. Ketika terjadi sebuah pertengkaran selama dua hari, semua keindahan memori selama 10 tahun hilang seketika dibandingkan 2 hari pertengkaran tersebut dan dalam benaknya persahabatan itu tidak menyenangkan, walau sebenarnya 10 tahunnya menyenangkan dan 2 harinya saja yang tidak.”
Daniel Kahneman menjabarkan, ada 2 bentuk “Self” dalam diri manusia. Pertama adalah Diri yang mengingat masa lalu [Remembering Self] dan Kedua adalah Diri yang mengalami perjalanan masa lalu [Experiencing Self]. Remembering Self adalah apa yang diingat, tentang cerita dan emosi yang tersisa yang masih bisa diingat kembali. Experiencing Self adalah yang benar2 merasakannya. Kedua hal ini sangatlah berbeda, meskipun mempunyai korelasi yang sangat tipis.
Ada tiga hal yang di ingat oleh manusia, yaitu Change [perubahan], Significant [yang luar biasa berbeda] dan Ending [akhir cerita]. Tiga hal tersebutlah yang sering diingat dalam pikiran [memori] manusia.
Dalam kejadian “perubahan”, seseorang akan mudah sekali menempatkan kejadian dalam benak karena terjadi suatu perubahan yang mampu memberikan sesuatu dalam hidup atau dalam pikiran itu sendiri. Misalnya perubahan pola pikir setelah mengikuti sebuah seminar atau pertemuan. Atau bisa juga ketika dia mendapatkan perubahan sikap dari seseorang yang dekat dengannya. Maka dia akan terus mengingat apa yang terjadi.
Di dalam kejadian “yang sangat luar biasa”, seseorang juga akan selalu menempatkan kejadian atau memori yang terbentuk karena kejadian tersebut. Dimana akan sangat mudah mengingatnya kembali ketika seseorang mendapatkan kejadian luar biasa dalam kehidupannya, misalnya ketika mendapatkan lotere atau ketika mendapatkan kelahiran anak.
Dalam kejadian “akhir cerita”, seseorang akan seringkali teringat kembali kejadiannya bila sedang menuju sesuatu tujuan yang sama dengan sesuatu yang pernah dijalaninya. Semisal, pernikahan yang berujung perceraian. Orang tersebut akan [sengaja dan tidak sengaja] menghidupkan kembali memori tentang akhir cerita yang pernah dialaminya. Akankah semua kembali terjadi ketika menjalani perjalanan yang sama atau menikah lagi.
Ketiga faktor itu akan terus mendominasi secara acak dan seringkali muncul tiba-tiba ketika kita merencanakan atau mengalami kejadian [sesuatu] dalam perjalanan hidup. Kita akan terus dibawa terlebih dahulu ke dalam pandangan yang sudah pernah masuk dalam ingatan.
Maka hal terpenting bagi kita adalah memahami dan mendalami kejadian [sesuatu] tersebut dalam kontek pikiran yang lebih matang. Kembalikan semua ke dalam tujuan [sebenarnya] yang memang seharusnya menjadi pegangan dalam situasi saat sekarang, bukan masa lalu. Perlu bagi kita untuk menyadarkan diri bahwa kemungkinan ke depan bukan tidak mungkin kita akan mengalami kejadian yang sama. Namun Penting bagi kita untuk mengerti, memahami dan mendalami betul bahwa kejadian ke depan tidak satu pun orang bisa memprediksikannya kecuali kita sendiri yang membentuknya.
Mari kita menjalani kehidupan ke depan dengan lebih baik, kenali dan pahami semua apa yang terjadi. Jadikanlah pijakan untuk berbuat lebih, bukan untuk kembali masuk ke dalam masa lalu. Seperti sepatah kata dariku “There’s a door without a promise, unless we open and make a promise after it”, yang sedang dilakukan para orang tua disini : Pak Tua Suryaden, Pak Tua Gajah Pesing, Pak Tua Endar.
Salam Bahagia.
Tags: Culture, Friends, Perjalanan, Renungan, Short Story
- 23 comments
- Posted under Motivation
Permalink #
suryaden
said
mirip peribahasa itu ya…
panas setahun di hapuskan hujan sehari, atau gara-gara nila setitik rusak susu dua titik.. wuahahaha…
nuwun link sundulane
Permalink #
Dimas
said
mengenali dan memahami segala sesuatu memang diperlukan agar tidak terjadi sebuah kesalah pahaman…
Permalink #
nuansa pena
said
Pentingnya sebuah tujuan, harus terencana, dan hambatan atau kegagalan merupakan proses keahlian dalam menangani tujuan yang akan dicapai, sehingga dihasilkan dari tujuan itu sebuah karya yang orisinil dan profesional!
Permalink #
Kika Syafii
said
???
Permalink #
nuansa pena
said
Trims doanya untuk anak kami!
Permalink #
ikkyu_san
said
Karena itu dalam bahasa Jepang ada istilah “hodo-hodoni” jangan TERLALU dan tahu kapan saat yang tepat untuk berhenti.
EM
Permalink #
darahbiroe
said
hu uh bener banget
penting memng planning sbuah tujuan
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
salam blogger
makasih
Permalink #
darahbiroe
said
he maap salah post comment nuyy,,
iya masa lalu biarlah menjadi pembelajarannn ajahh dan ke depanya smoga bisa lebih baik lagi
Permalink #
aldy
said
Saya baru saja memutuskan tali persahabatan dengan seorang sahabat yang saya kenal sejak tahun 2000, orang yang saya anggap sebagai adik sendiri ternyata menyimpan duri dalam daging yang disuguhkan.
Permalink #
Kika Syafii
said
Semoga masih bisa berhubungan layaknya Teman ya Mas.
Permalink #
Gus Ikhwan
said
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
mirip peribahasa ya
Permalink #
Kika Syafii
said
Saya sudah berkali-kali mencoba mengunjungi Blognya anda Gus. Tapi selalu gagal. Tidak hanya hari ini, sudah sedari kemarin-kemarin. Mungkin IPku kena blok dari situ.
Permalink #
soewoeng
said
kalo bolak balik ke masa lalu bukankah bisa jadi mesin waktu?
Permalink #
Dimas
said
kunjungan rutin ke blog sobat…
Permalink #
Agung Pushandaka
said
Rasanya kita memang lebih gampang melihat keburukan sesuatu daripada kebaikannya. Seperti contoh liburan di Bali itu. Kenangan buruknya akan lebih membekas.
Tapi untungnya saya ndak begitu amat. Hehe..
Permalink #
bOm² KDB
said
ayas malah jadi kangen ama Om kika.. mek semalam mijitin kaki nya…sampe sekarang masi bisa di kenang.. hehee
Permalink #
aris
said
bisa minta alamat terakhirnya beliau ndak?
Sudah menikah blum beliau,mempunyai anak berapa? trims untuk infonya
japri email : duronet.kenek@gmail.com
Permalink #
canting attayaya
said
aku mikir seperti kang mas suryaden di atas
thus…
ambil yang baik
kurangi/buang yang buruk
tetap jalin silaturahmi
Permalink #
infoaja.com
said
malam maz, klo boleh mau ijin bertukar link maz,
link blog ini sudah terpsang di yosbeda.com dan
infoaja.com dengan anchor “kika” silahakan di cek mas, sekiranya kedua blog saya tersebut
pantas untuk di blogroll, ditunggu link blzanya ya, terimakasih sebelumnya…
Permalink #
ciwir
said
tak kiro menurut daniel mahendra wahahaha
Permalink #
Kika Syafii
said
Wehhh itu manusia suci jangan disebut-sebut.
Permalink #
bintang
said
whahhahaha *ngakak baca komennya mas suryaden*
masa lalu ada untuk dikenal dan diambil pelajarannya. karena masa lalu makanya ada masa sekarang dan harapan untuk masa depan
Permalink #
Bung Eko
said
Jadi ingat pengalaman pribadi.
Saya punya teman dekat, sangat dekat sekali malah. Kami berteman selama sekitar 2 tahunan, karena ketemunya di kampus, dan langsung dekat. Sayang, 1 kesalahan yang saya lakukan membuatnya mencoret saya dari memorinya. Ya, yang dia ingat hanya dan selalu kesalahan saya itu. Hmmm…