June 27, 2010 Play
“Bermain” adalah kegiatan yang lebih mementingkan kenikmatan daripada tujuan pencapaiannya; dilakukan dengan antisipasi diri sendiri tanpa paksaan apapun; membuat kita lupa diri dan hanya fokus pada apa yang kita lakukan; menghanyutkan sehingga lupa waktu; menimbulkan idea baru dan otak yang segar sehingga meningkatkan kreatifitas dan inovasi; dan setelah selesaipun masih membuat kita ingin melakukannya lagi lain kali. Inilah karakter dari “bermain”.
Bermain selalu lebih menyenangkan daripada bekerja. Secara natural manusia melakukan kegiatan bermain sejak kecil, dengan antusias, semangat, dan penuh kegembiraan. Kita mulai terpasung ketika dewasa dan menganggapnya sebagai sesuatu yang “berdosa”, “kekanak kanak an”, dan tidak “bertanggung jawab”. Stuart Brown, pendiri National Institude of Play, mencoba menggali kembali esensi dari bermain ini dalam riset panjang puluhan tahun.
Menurut Neuroscientist Jaak Panksepp, penelitian pada hewan, menunjukkan bahwa “bermain” telah ada sejak jaman dinosaurus, dan bermukim pada reptilian brain kita, dimana kegiatan survival, bernafas, kesadaran juga berada. Kera, anjing, kucing, dan binatang lainpun memiliki kecenderungan akan melakukan kegiatan bermain ini, setelah kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup terpenuhi.
Bermain adalah kunci terbesar pada kreatifitas dan inovasi, dan merupakan kunci pada peningkatan IQ, optimisme, kebahagiaan, dan umur panjang kita. Einstein, Picasso, Michaelangelo, dikenal sebagai orang yang penuh semangat bermain. Semua dari kita mulai kehidupan dengan bermain, dan pelahan lahan mengundurkan diri dari kegiatan ini menjelang dewasa.
“Bermain” adalah kegiatan yang lebih mementingkan kenikmatan daripada tujuan pencapaiannya; dilakukan dengan antisipasi diri sendiri tanpa paksaan apapun; membuat kita lupa diri dan hanya fokus pada apa yang kita lakukan; menghanyutkan sehingga lupa waktu; menimbulkan idea baru dan otak yang segar sehingga meningkatkan kreatifitas dan inovasi; dan setelah selesaipun masih membuat kita ingin melakukannya lagi lain kali. Inilah karakter dari “bermain”.
Ada 8 personality orang didasarkan pada caranya bermain. The Joker, yang selalu bersenda gurau dalam hal apapun (teringat Joger, kawan saya). The Kinesthete, orang yang selalu bergerak untuk dapat berpikir, jalan, olah rada, break dance, adalah caranya bermain. The Explorer, seperti Richard Branson, yang melakukan esplorasi aneh2 dan sering menyengsarakan dalam mencari kebahagiaan bermainnya. The Competitor, pemain yang mementingkan sukses dan kemenangan dalam berkompetisi apa saja. The Director, pemain yang ingin menjadi dalang dan pengatur semua hal, berkuasa dan menunjukkan kekuasaannya. The Collector, selalu ingin mengumpulkan sesuatu, perangko, koin, barang antik, sepatu, atau apa saja untuk museum kehidupannya. The Artist, pemain unik yang ingin eksistensi dirinya diakui, penulis, pelukis, penari, pemahat. The Storyteller, pembuat filem, penulis buku, bahkan orang2 penari, acting, dan guru pun termasuk pada kelompok orang yang menemukan dirinya bermain pada kelompok ini.
Setiap orang menyukai hal yang berbeda, bahkan “bermain” nya seseorang adalah “siksaan” orang lain: memancing, sepak bola, golf, mendaki gunung, gameboy, facebook, balapan mobil, dan seterusnya.
Kalau anda pikirkan kembali, orang2 paling menarik dalam kehidupan kita, adalah orang2 yang selalu bermain pada kehidupan mereka. Banyak orang kehilangan jiwa bermainnya, tercecer pada perjalanan kehidupan yang secara pelahan menelan dan membunuh semangat kekanak kanakan yang bersinar pada dirinya. Ada 5 langkah yang membantu kembali menumbuhkan semangat ini.
1. Remember back your Playtime. Ingatlah kembali nikmatnya bermain dulu. Apa yang dulu membuat anda bahagia pada saat kanak kanak. Apa yang membuat anda ingin bangun pagi, dan melupakan kelelahan anda, dan yang ada hanya kebahagiaan dan nikmatnya saja?
2. Expose yourself to Play. Berjalanlan pada kehidupan yang mempunyai banyak kesempatan bermain. Carilah teman, pekerjaan, kegiatan, komunitas yang mempunyai kesamaan dengan kenikmatan bermain anda.
3. Give yourself permission. Ijinkan diri anda untuk bermain. Kekanak kanakan, sedikit kegilaan, nonsense, bodoh, lucu. Bebaskan diri anda dari ketakutan, lupakan batas2nya, ijinkan diri anda kembali bermain. Mungkin hanya untuk waktu yang pendek, sekali seminggu untuk 2 jam, ijinkan, dan rasakan kembali semangat bermain anda menghidupkan jiwa anda.
4. Combine play to your work. Sambungkan “bermain” pada “bekerja” anda. Bawalah esensi bermain anda pada pekerjaan anda. Hiaslah ruang kerja anda menjadi menyenangkan, bawalah pekerjaan anda pada perjalanan bermain anda. Kawinkan, jadikan satu, anda akan mulai mencintai pekerjaan anda seperti juga anda menginginkan waktu lebih bermain anda. Pekerja terbaik hanyalah bermain, dan “bermain saja kerjanya”.
5. Nourish your mode of play. Peliharalah semangat bermain. Berhati hatilah pada penghadang dan pembunuh “bermain”, ciptakan kultur dan semangat memelihara kenikmatan dan kegiatan bermain ini. Temukan network yang tepat dalam memelihara semangat bermain ini. Bentuklah kegiatan kehidupan yang mengutamakan bermain sebagai landasan kehidupan.
Semangat bermain, akan menumbuhkan kreatifitas dan inovasi anda. Bermain akan juga membuat anda semakin menguasai sesuatu bidang, karena larutnya kita saat bermain akan membuat kita menjadi lebih ahli dalam bidang tersebut.
Salam bermain.
Inpired by the book: PLAY by Stuart Brown, MD. Ditulis oleh Tanadi Santoso.
Artikel Terkait
Tags: Short Story
- 20 comments
- Posted under Art, Featured, Motivation
Permalink #
marsudiyanto
said
Ikut Play & Fly…
Permalink #
suryaden
said
lets plurk and play (lmao)
Permalink #
Pojok Pradna
said
all you need is game..
Permalink #
indonesiaku
said
bermain untuk indonesia lebih maju
Permalink #
Pojok Pradna
said
lho…komenku sedurunge, kontal?
Permalink #
Pradna Cahbagus
said
eh, ora ding
Permalink # Pertemuan itu « Pradna's Corner said
[...] saja,kapan terakhir beliau posting), Annomesem sang Penguasa Timturing, Dafhy dot net, si cantik Dexter, Shelter Tanjakan Assoy (yang berusaha meng-hack fesbuk demi mengembalikan nama aslinya), Estiko [...]
Permalink #
Irawan
said
ayo main… saya termasuk pemain yang mana ya…
Permalink #
satu kata
said
wah aku ikutan bos kalau main
oh ya salam kenal ya bos
Permalink #
Andy MSE
said
enjoy ajah!
Permalink #
Anna Wae
said
kalau di tempat kami, banyak kegiatan untuk anak-anak dilakukan dengan cara “bermain sambil belajar”… maklum anak-anak, kalau nggak sambil bermain jadi kurang menyenangkan:-)
Permalink #
'Ne
said
aku ikut yang The Artist aja ah, bermain kata-kata hehe..
Permalink #
fahem
said
wah nice post! ayo maiiin
Permalink #
itempoeti
said
hidup ini sebuah permainan…
jadi kenapa repot-repot cari permainan…
so…, let’s play…
Permalink #
Hedon
said
wah..ternyata play bisa menaikkan IQ juga yah…hmmm…
Permalink #
Love4Live
said
mari bermain…
Permalink #
elmoudy
said
salam bermain..
bermain dengan mengikuti pola permainan yang cantik..
dan tidak main-main kalo pas main hehe
Permalink #
Mr, Kem
said
betul..bermain memang lebih enak dibandingkan dengan bkerja..sala kenal om
Permalink #
totok guntur
said
lebih sneng terminologi ini…..hidup adalah permainan….jd tidak ada yg perlu dibohongin…..daripada hidup adalah panggung sandiwara…….ijin share mas…salam kenall
Permalink #
Putri Sarinande
said
sungguh benar, isi artikel ini. menjadi dewasa menyebalkan karena semua tampak serba harus serius. dan mengurangi, antusiasme untuk mencari tahu bahkan hal yang remeh (remeh bagi orang dewasa, bagi anak adalah istimewa…)