Skip to content

Perjalanan Kika

Menjadi manusia yang bisa merasa bukan merasa bisa.

Kegiatan-kegiatan positif seperti inilah yang memang harus menjadi tanggung jawab kita sebagai bangsa. Membangun dengan “hati” dan mengulurkan tangan sebisa mungkin. Inilah yang dinamakan “Sedekah Berjamaah” dan menurut saya pula, bila kegiatan ini terus menjadi pegangan bagi Mas Eko dan tim untuk bersosial bahkan dikembangkan lebih bagus lagi, maka akan banyak orang yang bisa mendirikan usahanya sendiri yang bisa jadi menyebar se-antero Indonesia (mumpung perijinannya tidak sulit seperti di Negara-negara maju).

Sebelumnya, saya hanya suka mengamati dan membaca apa saja yang terlihat baik sengaja maupun tidak sengaja. Dalam beberapa kegiatan yang kebetulan saya ikuti, beberapa tulisan “mie ayam sehati” mengajak ekor mata untuk menengok dan melihat apa sih sebenarnya di dalam situ, dan tentu berusaha mencari tahu siapa yang “mandegani” atau mungkin yang punya.

Saya awalnya tidak tertarik dengan Mie Ayam Sehati ini, karena pada dasarnya bisnis yang saya lakukan beda jauh dari hal ini. Namun ada benang merah yang mengikat pikiran saya terhadap Mie Ayam. Saya penggemar Mie Ayam, dan dulu waktu masih berkelana di Jogja sempat menjadi pedagang mie ayam di daerah Gedong Kuning depan Gedung Jogjakarta Convention Center. Meskipun akhirnya hanya bertahan selama 6 bulan. Namun sungguh, mie ayam mempunyai keterkaitan sejarah dalam kehidupan saya.

Maka dari itu ketika saya menemukan “Mie Ayam Sehati” ini, sempat pikiran saya bernostalgia menuju Jogjakarta sekaligus melintasi waktu beberapa tahun silam. Tanpa sengaja pula ternyata Mas Eko Eshape alias Mas Eko Sutrisno alias Mas Eko Cimart yang merupakan teman dekat saya, ada dibelakang mie ayam sehati ini.

Saya yang merupakan pribadi suka mengamati, akhirnya mengamati lebih dalam dan jauh. Sebuah pergerakan perdagangan yang tidak seperti biasanya dalam perputaran Mie Ayam Sehati ini. Mas Eko dan tim lebih suka berbagi ilmu dan menyebarkan ilmu memasak, membuat ramuan bumbu dan penyajian secara gratis. Meski terkadang ada biaya yang harus dikeluarkan, itupun hanya seharga 1 porsi mie ayam. Hebat? Sangat hebat!. Kalau saya boleh katakan, ini luar biasa. Semangat berbagi untuk banyak orang, membangun keinginan maju dengan pendekatan berdagang dan mengajak banyak orang untuk mengenal bahwa bisnis tidaklah selalu yang “bersih-bersih”.

Kegiatan-kegiatan positif seperti inilah yang memang harus menjadi tanggung jawab kita sebagai bangsa. Membangun dengan “hati” dan mengulurkan tangan sebisa mungkin. Inilah yang dinamakan “Sedekah Berjamaah” dan menurut saya pula, bila kegiatan ini terus menjadi pegangan bagi Mas Eko dan tim untuk bersosial bahkan dikembangkan lebih bagus lagi, maka akan banyak orang yang bisa mendirikan usahanya sendiri yang bisa jadi menyebar se-antero Indonesia (mumpung perijinannya tidak sulit seperti di Negara-negara maju).

Buat rekan-rekan yang ingin belajar membuat, memasak dan menyajikan mie ayam, silahkan hubungi langsung Mas Eko dan timnya. Semoga pelatihan-pelatihan yang selalu diadakan oleh tim Mie Ayam Sehati semakin banyak pesertanya, dengan demikian semakin banyak pula orang yang berpikir mandiri dan kemandiriannya. Sayangnya, saya sendiri belum sempat menyicipi rasa dari mie ayam sehati ini. Padahal sudah beberapa kali “kepergok” ditempat. Dan semoga pula, pemerintah mulai melirik hal-hal seperti ini. Bukan sekedar membikin peraturan kemudian melarang atau memerintahkan, namun memberi (setidaknya) solusi dalam hal pengangguran yang tiap tahun makin bertambah.

Dan bagi teman-teman yang masih menganggur, saya mohon pula “jangan hanya menunggu pemerintah untuk memberimu pekerjaan” karena itu sama saja dengan menunggu salju turun di pulau jawa.

Salam kreatif.

Tak ada orang yang mempu membantumu selama dirimu tidak mau membantu dirimu sendiri.

Tags: , ,