February 27, 2011 Menjadi manusia yang bisa merasa bukan merasa bisa.
Kalimat “menjadi manusia yang bisa merasa bukan merasa bisa” merupakan perilaku yang menunjukkan kerendah-hatian, memandang jauh dengan banyak sisi, menghargai orang lain dan menempatkan diri sendiri selalu sebagai orang yang bodoh, haus akan ilmu dan terus belajar. Dalam perjalanan dan pencernaan terhadap semua hal kehidupan ini, aku temukan bahwa ternyata kalimat ini berhasil diartikan secara lebih baik serta simple oleh Steve Job (Apple Inc) dengan kalimat “Stay Hungry, Stay Foolish”. Dengan merasa terus menerus bodoh, maka mudah untuk bisa mendapatkan ilmu lebih banyak.
“Le, sampeyan sakjane pinter. Ming sayange ora biso ngroso malahan krosone biso terus”.
Ucapan itu masih terus terngiang di telinga hingga detik ini. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bebas kira-kira isinya adalah “Nak, kamu sebenarnya pintar. Sayangnya tidak bisa merasa, malah terus-terusan merasa bisa”. Ini adalah ucapan orang-orang jawa terutama orang jawa kuno. Sebuah baris kalimat yang mempunyai kedalaman arti dan ilmu tinggi. Sederhana namun benar-benar mengena dalam perilaku orang. Dan aku menerima ucapan ini dulu, ketika usiaku 19 tahun.
Kalimat “menjadi manusia yang bisa merasa bukan merasa bisa” merupakan perilaku yang menunjukkan kerendah-hatian, memandang jauh dengan banyak sisi, menghargai orang lain dan menempatkan diri sendiri selalu sebagai orang yang bodoh, haus akan ilmu dan terus belajar. Dalam perjalanan dan pencernaan terhadap semua hal kehidupan ini, aku temukan bahwa ternyata kalimat ini berhasil diartikan secara lebih baik serta simple oleh Steve Job (Apple Inc) dengan kalimat “Stay Hungry, Stay Foolish”. Dengan merasa terus menerus bodoh, maka mudah untuk bisa mendapatkan ilmu lebih banyak.
Maka dengan itu, setiap saat aku akan me-reset pikiran bila tiba-tiba aku sudah merasa bisa ketika dihadapkan sesuatu. Orang yang menempatkan diri sendiri selalu lapar akan pengetahuan, selalu bisa merasa kalau dirinya bodoh maka akan lebih bisa menikmati kehidupan. Dengan terus berpikir seperti ini, segala sesuatu menjadi hal yang ringan, semua terlihat mencerahkan dan membahagiakan. Berbanding terbalik dengan orang yang sudah merasa pintar ataupun merasa bisa, setiap hal hanya akan menjadi sebuah pijakan kaki bukan sebuah samudera pelayaran. Maka tidak ada pembelajaran disitu.
Orang yang berpikir positif akan lebih mudah untuk sukses dan berhasil dalam cita-citanya. Semua hal akan datang dengan kemudahan yang kadang tidak disadarinya. Disinilah yang juga aku sebut sebagai “keindahan penantian”. Setiap saat berdebar-debar ingin mendapatkan atau menemukan ilmu baru. Rasa yang seperti jatuh cinta. Kemudian merasakan pelukan ilmu dan mendalaminya.
“Tak ada yang lebih baik dari siapapun, kecuali kemampuan dan kemauannya untuk terus belajar”.
Salam kreatif.
Artikel Terkait
Tags: Art, Motivation, Social
- 15 comments
- Posted under Motivation, Social
Permalink #
addiehf
said
mari, teruslah belajar, dan dengan semangat
sebelum akhirnya kita menyatu dengan tanah
Permalink #
Kika Syafii
said
Mari mari merry solo mariastuti hahaha…
Permalink #
short
said
ooo ini tho pacarnya merry
Permalink #
katakataku
said
belajar, belajar, dan terus belajar.
adalah bagaikan percumbuan yang tak kan pernah menemukan apa itu ‘kepuasan’
#ihhiiyyy
Permalink #
Kika Syafii
said
Ho’oh Om.
Permalink #
giewahyudi
said
Sebaiknya seperti padi, makin berisi makin merendah..
Permalink #
Kika Syafii
said
Alhamdulillah Mas, saya siap ikut ilmunya.
Permalink #
senja
said
inspiratif sekali mas, trima kasih sdh membaginya disini…..
Permalink #
Kika Syafii
said
Thank you thank you Mbak Insomnia
Permalink #
chocoVanilla
said
Memang setiap kali menemukan sesuatu yang baru jadi bersemangat ya
Permalink #
Kika Syafii
said
Betul etul tul…
Permalink #
intan rawit
said
bener banget filosofinya nih, keren2…mencoba untuk diamalkan…
never stop learning something new..aku juga setuju, seperti mengawali sebuah petualangan baru..
Permalink #
Kika Syafii
said
Ikut belajar juga dari Mbak.
Permalink #
'Ne
said
“To say you don’t know is the beginning of knowing. Menyadari diri tidak tahu adalah awal dari pengetahuan sekaligus keagungan.” pernah baca ini di artikel yang ditulis oleh Gede Prama di koran Kompas (lupa judulnya, tahun 2009)
hampir sama ya mas, sama juga dengan filosofi gelas isi dan gelas kosong
ketika kita merasa menjadi gelas yang sudah isi, jika diisi air (ilmu) maka akan tumpah.
tapi jika kita merasa sebagai gelas kosong, diisi air bisa masuk.. (ini hasil dari nonton film atau video di youtube, saya lupa hehe)
Permalink #
Dea
said
merasa bisa tapi tidak bisa, bisa mendatangkan bencana bagi diri sendiri. kepedean namanya.
terima kasih
Dea Situmorang