Mengurus Visa Amerika Serikat

29
April 29, 2010 at 4:47 am  •  Posted in Karir by  •  29 Comments

Visa merupakan salah satu syarat wajib yang mesti dimiliki oleh seseorang untuk dapat memasuki wilayah kedaulatan sebuah negara. Kecuali jika negara tersebut memiliki perjanjian bebas visa dengan negara kita (misal, orang Indonesia bebas bepergian ke Singapura atau Malaysia tanpa harus membuat visa terlebih dahulu).

Berdasarkan pengalaman mengurus visa di beberapa negara, urusan yang satu ini sebenarnya kegiatan gampang-gampang susah. Tergantung ke negara mana kita hendak berkunjung.

Pada dasarnya tujuan pembuatan visa sekadar masalah tertib administrasi saja. Maksudnya, pihak negara yang akan dikunjungi itu ingin agar semua tamunya terdata dengan baik. Namun, tidak semua negara merasa nyaman dikunjungi (baca: tidak terlalu ‘welcome’ rumahnya didatangi tamu). Sudah menjadi rahasia umum, negara yang paling bersikap paranoid untuk urusan yang satu ini adalah Amerika Serikat.

Boleh percaya boleh tidak (kalau tidak percaya ya coba sendiri saja), dari ratusan orang yang terlihat antri setiap paginya di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di depan Stasiun Gambir, Jakarta, tidak sampai separuhnya yang sukses mendapatkan visa untuk memasuki wilayah Amerika Serikat!

Pada tulisan ini, saya mencoba menuliskan tips agar anda tidak sia-sia berjuang.. Atau sebaliknya, membuat anda tahu diri bahwa belum waktunya mendapatkan visa Amerika Serikat. Terdengar kasar memang. Tapi itulah kenyataan yang akan anda hadapi jika maju terus. Secara tidak langsung, tulisan ini juga dapat diimplementasikan ketika mengurus visa di kedutaan besar negara-negara lainnya (catatan: pengurusan visa Amerika Serikat adalah yang tersulit). –Sedikit pengecualian adalah untuk negara-negara di bawah bendera Uni Eropa. Pada saat ini mereka mengimplementasikan visa “satu atap” yang dikenal dengan nama Visa Schengen. Dengan memiliki visa ini, kita bisa memiliki hak berkunjung ke beberapa negara sekaligus. Untuk mengurusnya, bisa di kedutaan besar negara Uni Eropa mana pun. Namun standar pelaksanaannya adalah diurus di negara yang akan kita kunjungi paling lama di antara negara-negara yang mungkin akan kita kunjungi. Jika ternyata relatif sama, maka yang diambil adalah negara pertama yang akan kita singgahi.

Dengan alasan keamanan warga negaranya dan keamanan si pengunjung itu sendiri, pemerintah Amerika Serikat memang sangat ketat dalam menyeleksi siapa saja orang yang boleh masuk dan siapa yang tidak boleh. Walau alasannya sangat bagus, namun tidak jarang masalah subyektivitas dalam menilai pemohon visa sangat kental. Coba saja berjenggot tebal dan panjang, berbaju gamis, celana menggantung dan memegang tasbih, dijamin anda akan mendapat perhatian ekstra dan segudang pertanyaan untuk men-skak-mat anda, sehingga mereka punya alasan bahwa anda tidak punya cukup alasan kuat untuk datang ke Amerika Serikat.

interview bisa dilakukan lewat  (update: sekarang harus dilakukan secara online lewat situs web Kedubes AS). Lihat keterangan  pada situs U.S. Embassy – Jakarta di link ini. Sebutkan nama lengkap dan nomor paspor anda, sebutkan tujuan utama/jenis visa yang ingin diperoleh (kunjungan wisata, sosial, bisnis atau bahkan migran). Sebutkan pula hari/tanggal yang anda inginkan. Sepengetahuan saya, kapan pun tanggal yang anda minta selalu di-amini, kecuali tanggal tersebut adalah hari libur (termasuk hari libur nasional di Amerika Serikat). Pada tanggal tersebut, anda diminta untuk datang pagi hari jam 07.00. Beberapa orang malah sudah berdiri di tempat antrian sejak sebelum jam 6 pagi! Pintu masuknya sendiri baru mulai dibuka pada pukul 08.00. Yang perlu diingat, loket kasir tutup pukul 10.00.

Sejak akhir tahun 2005, pemerintah Amerika Serikat mengharuskan semua pemohon untuk menggunakan formulir aplikasi pendaftaran elektronik (formulir DS-156) yang diisi di situs web yang telah disediakan. Formulir ini bisa diisi pada halaman web ini. Cetak dan bawa formulir yang sudah diisi dan mendapatkan barcode dari web ini ketika anda hendak mengantri di kedutaan. Tanpa membawa paspor dan formulir, anda tidak akan dilayani. Jangan lupa pula menyertakan pas foto berukuran 5×5. Ada standar ukuran khusus yang telah ditetapkan. Jangan asal 5×5. Amannya, katakan pada studio foto tempat anda hendak membuat pas foto, bahwa anda hendak membuat visa Amerika Serikat. Jika dia tidak mengerti, tinggalkan. Cari saja studio foto yang lain. Di Jakarta banyak studio yang paham koq. Apalagi di sekitar Jalan Sabang, jelas-jelas mereka memajang tulisan “Terima pas foto visa U.S.”.

Antrian pertama yang harus dilalui di depan ini adalah antrian untuk masuk ke area ring terluar dari kedutaan. Selain akan diperiksa kelengkapan dokumen standar dan diperiksa bahwa nama anda benar-benar ada di dalam daftar pemohon, tentunya barang bawaan anda pun akan diperiksa. Demi kenyamanan anda sendiri, sangat amat tidak disarankan membawa barang-barang yang tidak perlu (termasuk jaket). Karena selain repot membawanya, anda pun akan berkali-kali melewati proses pemeriksaan.

Setelah masuk ke dalam pagar, anda akan bertemu lagi dengan antrian yang kedua. Antrian ini menuju loket kasir, di mana anda harus membayar uang administrasi. Loket kas hanya menerima pembayaran dalam bentuk rupiah. Dari yang saya baca di surat kabar beberapa waktu yang lalu, per tahun 2008 ini terjadi kenaikan biaya menjadi USD 131 (saya belum mengetahui nominalnya dalam rupiah). Diterima atau tidak diterimanya aplikasi visa anda, say goodbye to your money. Kasir akan dengan riang gembira menerima uang anda, tidak perduli apakah formulir anda lengkap atau tidak, benar semua atau masih ada salah. Kasir akan memberikan nomor regu (panggilan interview akan dilakukan secara berkelompok, beberapa orang sekaligus).

Antrian yang ketiga adalah antrian untuk memasuki ring yang lebih dalam lagi di lingkungan kedutaan. Di sini anda harus melewati metal detector. Semua barang elektronik harus ditinggalkan di meja security — tidak terkecuali flash disk! Saya yang ketika itu menggunakan safety shoes standar lingkungan pertambangan (yang di bagian depannya terdapat logam yang melindungi bagian atas jari kaki) dipaksa melepas sepatu dan secara khusus sepatunya melalui scanner. Sesekali terlihat tentara berseragam pakaian dinas lapangan lengkap berjalan mondar-mandir. Benar-benar tentara bule, berseragam loreng gurun, berwajah tegang dan dingin menyandang senjata otomatis dalam posisi standby.

Setibanya di dalam, kita kembali mengantri. Kali ini bisa duduk. Tunggu nomor kelompok anda dipanggil. Regu yang dipanggil akan memasuki sebuah ruangan. Lagi-lagi antri lagi. Duduk-duduk lagi. Di dalam terdapat beberapa loket kaca yang membatasi antara pemohon dan peng-interview. Perhatikan di sini, jika si pemohon mendapatkan kembali paspornya, itu artinya dia gagal. Jika yang diterima adalah sepotong kertas putih, itu artinya dia hampir pasti akan mendapatkan visanya (kecuali tiba-tiba ada hal luar biasa yg membuat dia gagal).

Pertama kali saya berurusan dengan interview di Kedutaan Amerika Serikat, proses interview hanya sekitar 2-3 menit, bule cowok yang awalnya saya anggap begitu nice karena sangat ramah mengajak saya bercakap-cakap, tanpa ada hujan atau angin, tiba-tiba mengembalikan paspor saya dan bilang bahwa saya tidak punya cukup alasan untuk datang ke Amerika Serikat! masih dalam keadaan terbengong-bengong karena tidak menyangka dan tidak mengantisipasi “keramahan” orang ini, dia segera bilang “next”. Maksudnya, pemohon berikutnya diminta maju untuk di-eksekusi olehnya.

Faktor yang saya anggap menjadi alasan buat dia adalah karena saya tidak bisa menunjukkan paspor lama saya. Sebenarnya sebelum datang saya sudah mencoba mencari di mana saya menaruh paspor lama tersebut. Tapi karena saya tinggal di beberapa tempat –setidaknya di Jakarta dan Bandung–, paspor lama ini tidak ketemu. Jadi ketika dia tanya mana paspor lamanya, saya gampangkan saja dengan bilang diambil oleh kantor imigrasi setempat ketika saya memperbarui paspor. Kenyataannya memang hampir terjadi seperti itu. Tahun 2003 ketika saya memperpanjang paspor di kantor imigrasi Lampung, petugasnya hendak mengambil paspor lama saya. Tapi karena saya ingin memilikinya sebagai kenang-kenangan, akhirnya dia minta paspor tersebut difotokopi dan kopinya ini diserahkan. Bayangkan jika paspor lama ini tidak saya miliki. Mungkin sampai kapan pun saya ngga akan pernah bisa mendapatkan visa Amerika Serikat.

Walau alasan tersebut juga sebenarnya saya anggap mengada-ada (bisa jadi juga karena nama saya yang islami, sehingga ditolak saja), yang paling membuat saya sakit hati adalah dia sama sekali tidak menggubris bahwa saya sebenarnya mendapat undangan untuk hadir di sebuah acara Microsoft yang dihadiri juga oleh Bill Gates! Bagaimana mungkin bule itu bisa bilang saya tidak punya cukup alasan tanpa dia melihat sedikit pun lembar kertas yang saya bawa. Yah, bodohnya saya juga kagetan ngga nyangka bakal ditolak. Jadi tidak sempat memaksa dia untuk melihat undangan yang saya miliki.  Jadilah, hari itu saya pulang dengan tangan hampa dan duit hilang percuma.

Setelah bertanya-tanya kiri dan kanan, salah satu faktor yang akan sangat dipertimbangkan oleh mereka adalah “track recordperjalanan ke luar negeri kita selama ini. Apakah anda orang yang sering bepergian atau tidak. Salah satu ketakutan mereka adalah kita datang ke negaranya dan kemudian tak ingin kembali lagi (ke Indonesia!). Jadi, jika anda tidak pernah ke luar negeri, tiba-tiba hendak ke Amerika Serikat, tanpa ada alasan yang sangat kuat (misal karena anda diundang oleh Gedung Putih!), lupakan saja. Perjalanan ke negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura bisa dibilang tidak masuk dalam hitungan. Jika anda pernah bepergian ke Australia, Jepang atau negara-negara kroni Amerika Serikat di Uni Eropa, ini baru merupakan modal yang sangat kuat untuk juga mendapatkan visa Amerika Serikat. Jika anda malah rajin berkunjung ke daerah “daftar hitam” seperti Afghanistan atau Libya, bisa jadi seumur-umur anda hanya akan melihat Amerika di televisi atau bioskop.

Atas desakan beberapa orang, akhirnya seminggu kemudian saya datang lagi. Kali ini dengan amunisi lengkap dan telah mempelajari peta situasi sebelum kembali ‘bertempur’. Bukan hanya juga membawa serta paspor lama yang jadi kambing hitam pada proses sebelumnya, kali ini saya juga membawa semua print-out rekening koran dan buku tabungan yang saya miliki. Bahkan tagihan beberapa kartu kredit pun saya bawa, untuk menunjukkan berapa pagu kredit yang saya miliki. Dokumen-dokumen ini saya bawa serta karena sebelumnya saya lihat ada yang bawa-bawa ijasah dan bahkan surat tanah. Yang tak kalah penting adalah surat jaminan dari kantor bahwa anda akan kembali (jika anda seorang pegawai). Kartu nama resmi dari kantor juga sangat bermanfaat. Jika anda pengusaha, tunjukkan bahwa di negara ini anda masih punya banyak aset. Tidak mungkin tidak kembali. Intinya adalah meyakinkan mereka bahwa kita pasti kembali. Sepertinya memang terdapat sindrom gede-rasa alias ge-er, bahwa kita akan terpesona di negerinya dan tak ingin pulang. Walau tidak bisa dipungkiri juga bahwa ada orang-orang yang sengaja datang ke sana untuk mencari rejeki di tanah orang. Seperti halnya di Jakarta, masalah tenaga kerja tanpa skill yang memadai merupakan beban bagi Pemerintah.

Pada kesempatan interview kali ini, saya sudah mempersiapkan diri bahwa saya-lah sebagai “play-maker” nya. Semua bahan pembicaraan sudah saya hapalkan sejak malam harinya. Alur pembicaraan dan “bahan peraga” berupa surat undangan, itenerary trips perjalanan yang akan saya lakukan (ke mana saja), show off kemampuan finansial, dsb, mengalir dengan lancar bak seorang sales profesional yang tengah menjajakan barang dagangan. Pas kebetulan pula kali ini yang meng-interview saya adalah bule cewek cantik. Tatap saja matanya terus menerus.. dan dia akan segera di bawah kendali. Pertanyaan pertama mengenai maksud dan tujuan ke Amerika segera saya jawab dengan mantap. “I want to meet Bill Gates!“. Dia jawab, “Really? He’s the richest and famous man“. Belum hilang kagetnya dia, saya terus nyerocos sebagaimana skenario yang telah saya pikirkan malam harinya. Sampai akhirnya dia menyerahkan secarik kertas dan bilang “Okay, come back again at this date“.

Selain dokumen-dokumen yang saya sebutkan tadi, akan sangat berguna juga jika kita membawa serta tiket pesawat pergi-pulang. Lagi-lagi, ini untuk membuktikan bahwa kita pasti pulang. Jelas karena ada tiket perjalanan kembali. Anda juga harus tahu dengan pasti, akan tinggal di mana (jika di hotel, sebutkan nama dan alamatnya juga). Akan lebih baik jika ada contact person warga Amerika di sana yang bisa dihubungi. Jika perjalanan anda ke Amerika Serikat adalah kunjungan wisata, sangat disarankan agar anda berkunjung dengan menggunakan paket wisata yang disediakan oleh jasa agen perjalanan. Biarkan agen perjalanan yang menguruskan visa anda.

Walau sepertinya kemampuan finansial anda akan sangat berpengaruh terhadap status diterima atau tidaknya permohonan visa anda, tapi saya melihat dengan mata kepala sendiri, di loket sebelah kiri saya, seorang ibu berpenampilan borjuis yang juga membawa-bawa buku tabungannya ketika di-interview tapi tetap ditolak. Entah karena apa. Padahal si ibu sudah bilang bahwa dia hendak menjenguk anaknya di sana.

Walau juga ada dugaan masalah nama yang islami bisa menjadi batu sandungan, tapi di loket sebelah kanan saya ada keluarga kecil yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak yang masih balita ber-etnis tionghoa yang juga membawa-bawa tiket masuk ke Disneyland dan travel itenerary di beberapa kota di pantai barat Amerika Serikat, juga ditolak mentah-mentah. Yang saya dengar, bule yang meng-interview nya sempat menyebut-nyebut bahwa si pria tionghoa ini pernah juga ditolak 2x beberapa tahun sebelumnya. Entah karena apa, sepertinya kutukan atas dia belum lepas juga.

Proses normalnya berjalan sekitar 2 minggu. Artinya, sejak hari anda melakukan interview untuk permohonan visa sampai dengan visa tersebut bisa anda ambil kembali memakan waktu sekitar 2 minggu. Jadi, jangan harap bisa pergi mendadak, kecuali anda telah memiliki visa yang masih valid. Untuk alasan kenyamanan pribadi, jangan lupa pula kembali membawa serta beberapa dokumen yang penting (kali ini tidak perlu semua) seperti travel itenerary, voucher hotel, surat undangan (jika datang untuk keperluan bisnis), kartu nama dan uang dollar dalam jumlah memadai harus ada di tangan anda. Sebagai orang yang berasal dari Indonesia, hampir pasti anda akan ‘diculik’ untuk mendapatkan ‘kelas’ interogasi khusus bagi pendatang dari negara-negara tertentu setibanya anda di Amerika Serikat. Welcome to United States of America!

Oleh:  Rahmat Zikri

Catatan ini saya Copy Paste karena kebetulan saya ingin bisa mengurus Visa ke US dan semoga bisa. Terima kasih buat Mas Rahmat Zikri.  Dan saya sedang malas mengedit :D.

29 Comments

  1. Pingback: Tweets that mention Mengurus Visa Amerika Serikat #career #perjalanan -- Topsy.com

  2. oding / April 29, 2010 at 6:54 am / Reply

    Nice Inpo tentang Visa. Saya belum pernah mengurus Visa…***ketahuan ga pernah ke LN..

  3. ikkyu_san / April 29, 2010 at 10:57 am / Reply

    oooh jadinya Amerika nih? Ngga jadi Jepang ;))

    EM

  4. Mamah Aline / April 30, 2010 at 10:42 am / Reply

    Belum pernah mengurus visa, tapi semoga jadi manfaat buat saya atau keluarga jika suatu hari ada kepentingan yang berkaitan dengan pengurusan visa amerika ini mas kika

    • Kika Syafii / April 30, 2010 at 5:47 pm / Reply

      Sippp Mamah Aline. Semoga berguna.

  5. hanifilham / April 30, 2010 at 6:05 pm / Reply

    wah2… VISA? berharap bisa kuliah di luar negeri, jadi ngerti masalah2 ginian. hehe.

  6. Pingin ngeblog / April 30, 2010 at 11:16 pm / Reply

    Semoga Lancar Bro….

    Jangan lupa kalo dah nyampe kirim surat…hihihi (halah)

  7. sendy / May 1, 2010 at 12:11 am / Reply

    saya sampai tercenggang bacanya…ckckck sebegitu ketatnya untuk mendapatkan visa, padahal kalo di indonesia mau masuk lewat pintu manapun masih bisa…hehehehe :piss:

    mass kika nanti ketemu sendy gates ya :D

  8. itempoeti / May 1, 2010 at 3:20 am / Reply

    mengko aku diceritani wae piye rasane Amerika???

  9. arman / May 1, 2010 at 5:37 am / Reply

    sekedar tambahan sharing ya…

    kakak saya juga sempet ditolak (2 kali) waktu apply visa US. pas pertama kali ditolak sempet protes tanya apa alasannya. yang mana gak akan dijawab, tapi cuma dikasih selembar kertas point2 yang kemungkinan membuat ditolak. walaupun gak jelas juga.

    disitu ditulis juga walaupun udah punya tiket pp, gak jaminan akan dikasih visa lho. jadi kalo sampe mau nekad beli tiket pp dulu dan gak dapet visanya, jangan sakit ati ya… :D

    yang kedua kali dateng udah dengan segala macem rekening bank, dan juga surat dari kantor yang menyatakan kalo dia harus balik ke indo, tetep aja ditolak. jadi jaminan kantor dan tabungan ternyata gak jaminan dapet visa juga… :D

    nah strategi ketiga adalah… seperti yang ditulis di atas… katanya kalo pernah ke luar negeri (yang require visa juga lho ya… kalo cuma ke singapur/thailand gak diitung, karena kakak saya udah ada cap singapur dan thailand di passportnya toh ditolak juga) bisa ngebantu. jadi lah kakak saya pergi berlibur ke perth dulu (visa australi gampang dapet, dan perth kan deket). dan voila… kali ketiga apply visa us, dikasih tuh! :)

    tapi balik lagi ke faktor yang utama… kayaknya sih tetep ada faktor untung2an. kalo dapet penginterview nya baik ya bisa dapet. tapi kalo dapet yang rese ya bakal ditolak… so jangan lupa berdoa!

    good luck!

    • Kika Syafii / May 1, 2010 at 8:45 am / Reply

      Terima kasih terima kasih hehehe… Nambah nih..

  10. walasa / May 1, 2010 at 12:27 pm / Reply

    wah mas Kika mantabnyaa, bagi saya yang awam…susah ya urusan visa itu, apalagi kalo urusan kerja, terlebih lagi untuk tinggal lama di sana…. kapaaan ya bisa dapet Grinkad… kayak artis amerika asal Indonesia itu sapa ya, lupa namanya…dia sekeluarga pindah ke Amrik gara2 menang lotere greencard…hihihii… bagi2 foto nya tar lok uda sampe US yaaa???

  11. irmasenja / May 1, 2010 at 6:43 pm / Reply

    mau ke mana mas ? ngurus visa….
    ^_^
    tapi thanks infonya ya,insyallah berguna….

    • Dexter / May 1, 2010 at 7:08 pm / Reply

      Mau pindah warga negara Mbak, semoga bisa.

  12. tary / May 2, 2010 at 1:01 pm / Reply

    wah, mau ke amrik ya?
    seru banget….
    salam ma obama ya mas heheh

  13. elmoudy / May 2, 2010 at 6:11 pm / Reply

    infonya mantap bro…
    suatu saat, aku pasti akan baca ini lagi, kalo udah mo brangkat ke Amrik..
    doakan ya broo.. bisa kesana :)

  14. mari0sy / May 2, 2010 at 11:39 pm / Reply

    salam kenal dari
    http://aby-umy.blogspot.com/

    law ada waktu mampir ya??

  15. Gema / May 3, 2010 at 1:39 pm / Reply

    bener bener mo ketemu Bill Gates yah?

  16. suwung / May 3, 2010 at 11:53 pm / Reply

    susah men? yang paling mudah kemana?

    • Dexter / May 4, 2010 at 12:22 am / Reply

      Paling mudah ke Singapore dan Malaysia Kang hihihih..

  17. muhammad / May 11, 2010 at 11:28 am / Reply

    whew…ribet banget…

  18. diez / May 22, 2010 at 12:39 pm / Reply

    Dari awal mulai ngurus visa sampe keluar visa biasanya berapa lama yah mas? hehe :D

  19. edo / June 13, 2010 at 10:18 am / Reply

    setelah visa, imigrasinya sana gak bisa disogok2 ya hahahaha!

    beda ! hehehe

  20. dian / June 18, 2010 at 6:39 pm / Reply

    Thanks infonya.
    Semoga bulan depan bisa segera mengurus visa ke US
    :)

  21. Ranti / July 26, 2010 at 3:08 pm / Reply

    Passport lamaku bener2 ilang. Ada saran ga? Waduh, masa seumur-umur ga bisa ke US karena ga ada passport lama :(

  22. andy / May 25, 2011 at 10:22 pm / Reply

    kalau pakai pesawat pribadi tetap harus pakai visa atau tidak

  23. «((¯`¤ RáÐhìtá ¤´¯))» / June 2, 2011 at 10:51 am / Reply

    thanks utk infonya. cukup lengkap dan membantu

  24. kasih / January 4, 2012 at 2:12 pm / Reply

    waduhh ribet ya, apalagi saya cuma mau berlibur dan bertemu pacar saja gimana ini?

Leave a Reply


+ 4 = 12

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose