July 6, 2010 Membantu adalah kebutuhan
Hingga tanpa sengaja ketika sedang menyeduh kopi dan God! Pahit sekali, karena belum diberi gula. Saat itulah saya menyadari sesuatu. Belanja merupakan bagian dari kesenangan dan Sedekah bagian dari ketidaksenangan. Mengapa begitu?
Suatu hari seorang teman bertanya pada saya, “Mas Kika, kenapa orang yang belanja banyak hingga mengeluarkan ratusan ribu setiap belanja tetapi bisa dengan mudah mengeluarkannya daripada ketika harus menyumbang beberapa puluh ribu?”.
Pertanyaan yang sulit, saya bukan orang pandai. Maka saya katakan, saya akan jawab pertanyaan itu dua atau tiga hari mendatang. Sejak itu, langsung saya bongkar semua arsip buku dan catatan-catatan koleksi yang ada di almari. Selama dua hari penuh mencoba mencari sebab-sebab manusia lebih suka dengan hal-hal yang boros atau semua yang berbentuk kenikmatan dunia. Dan hasilnya NOL, ternyata saya tidak punya catatan tentang itu. Dengan berat hati saya rapikan kembali buku-buku itu.
Hingga tanpa sengaja ketika sedang menyeduh kopi dan God! Pahit sekali, karena belum diberi gula. Saat itulah saya menyadari sesuatu. Belanja merupakan bagian dari kesenangan dan Sedekah bagian dari ketidaksenangan. Mengapa begitu? Karena ketika orang belanja, orang akan mendapatkan kesenangan dan kegembiraan sehingga ketika mengeluarkan uang berapapun takkan pernah terasa. Sebab ada feedback secara langsung yang berbentuk entah itu barang ataupun kepuasan pikiran. Artinya, semua akan berefek secara langsung kepada pelaku “belanja” tersebut bukan orang lain atau melalui orang lain. Berbeda dengan menyumbang atau sedekah ataupun membantu orang lain, semua itu tidaklah berefek secara langsung saat itu juga dengan diri tersebut. Itulah kenapa orang berasa berat melakukannya.
Maka pada dasarnya semua bisa dipelajari. Mempelajari agar senang menyumbang atau sedekah dan membantu orang lain. Semua cara pandang manusia diatur oleh otak, dijalankan dan diturunkan ke hati hingga muncul apa yang namanya “perasaan”. Mempelajari semua titik berat di pikiran dan perasaan, merubah mind set yang buruk hingga menjadi lebih baik.
Mari kita belajar untuk tidak membedakan teman, tidak membedakan status, buang rasa iri yang tidak perlu untuk dirawat terus menerus. Karena membantu teman sebenarnya adalah kebutuhan alam bawah sadar kita sendiri. Ketika anda mencapai titik terdalam dalam berpikir dan mendapatkan cara pandang baik tentang hakikat berbagi, maka semua menjadi lebih terang buat anda, dunia tak lagi sempit. Akan terasa luas dan sangat luas. Masih ingat dengan teori “rantai makanan”?, nah didalam kehidupan kita, bukanlah rantai makanan yang seharusnya ada namun “rantai tangan” alias saling berpegangan tangan dan membantu. Sekali lagi, lakukan konversi pada cara berpikir yang jelek. Sadari betul kemampuan diri sendiri. Jadilah orang yang bisa merasa daripada orang yang merasa bisa.
Terus apa hubungannya dengan Kopi tanpa Gula?, silahkan cari sendiri jawabannya.
Salam kreatif.
Artikel Terkait
Tags: Motivation, Social, Trauma, Trauma Healing
- 18 comments
- Posted under Social
Permalink #
riFFrizz
said
Pertamaxxx
Permalink #
Jidat
said
Glogok!!!
Permalink # Tweets that mention Membantu adalah kebutuhan » Perjalanan Kika -- Topsy.com said
[...] This post was mentioned on Twitter by Kika Syafii, Kika Syafii. Kika Syafii said: Membantu adalah kebutuhan http://goo.gl/fb/utT2E #art #social #motivation #trauma #traumahealing [...]
Permalink #
Ivan Kavalera
said
dahsyat!
Permalink #
Jidat
said
Marai urip ki gak iso ndewe lo, makhluk sosial yah
Permalink #
mbah sangkil
said
mugo2 aku iso menjadi orang yang bisa membantu sesamanya
Permalink #
suryaden
said
worship…
gulanya dong
Permalink #
ciwir
said
mantabbb.. sangar tenan…
Permalink #
Sweet_angel
said
(worship)(keplokkeplok)
mugo2 iso nyontoni kanca2ne yo mas.. (blush)
Permalink #
itempoeti
said
“Suatu hari seorang teman bertanya pada saya, “Mas Kika, kenapa orang yang belanja banyak…”
Ralat :
“Suatu hari seorang teman bertanya pada saya, “Mbak Kika, kenapa orang yang belanja banyak…” (lmao) (rofl)
terima kasih atas wejangannya… (worship)
Permalink #
Jidat
said
Mbak Sudah makan? (rofl)
Permalink #
febriyanto
said
he.eh, setuju dengan anda…. sepertinya yg abstrak jarang disukai, lebih suka yg konkrit,….. akhirat vs dunia
Permalink # funktaztic.com said
Cara Berlangganan Artikel Blog via Email…
I found your entry interesting thus I’ve added a Trackback to it on my weblog
…
Permalink #
dafhy
said
dan mungkin itulah kenapa jalan menuju ke neraka itu mudah. coba kalau setiap kita bersedakah ada rewardnya
jadi teringat kata-kata sampean mas
Permalink #
adji prastya
said
permisi….
sepakat bos,klo orang jawa bilang, “dadio wong sing biso rumongso,ojo rumongso biso”
Permalink #
'Ne
said
iya mas, sebenarnya ketika kita bisa membantu orang dan ternyata memang berguna bagi orang itu maka rasanya seneng banget. hanya dengan melihat snyum dan ucapan terima kasih itu juga sudah membahagiakan, aku merasa menjadi berguna bagi orang lain
Permalink #
dhedhecuit
said
jika membantu adalah kebutuhan maka mungkin akan lebih mudah dilakukan
Permalink #
Putri Sarinande
said
gula. memberi rasa manis. tetapi jika terlalu banyak, membuat pusing. pahit, kadangkala dibutuhkan, untuk kesegaran. hmmm, kopi dan gula yang menarik nih ^_^