Skip to content

Perjalanan Kika

Menjadi manusia yang bisa merasa bukan merasa bisa.

Hingga tanpa sengaja ketika sedang menyeduh kopi dan God! Pahit sekali, karena belum diberi gula. Saat itulah saya menyadari sesuatu. Belanja merupakan bagian dari kesenangan dan Sedekah bagian dari ketidaksenangan. Mengapa begitu?

Suatu hari seorang teman bertanya pada saya, “Mas Kika, kenapa orang yang belanja banyak hingga mengeluarkan ratusan ribu setiap belanja tetapi bisa dengan mudah mengeluarkannya daripada ketika harus menyumbang beberapa puluh ribu?”.

Pertanyaan yang sulit, saya bukan orang pandai. Maka saya katakan, saya akan jawab pertanyaan itu dua atau tiga hari mendatang. Sejak itu, langsung saya bongkar semua arsip buku dan catatan-catatan koleksi yang ada di almari. Selama dua hari penuh mencoba mencari sebab-sebab manusia lebih suka dengan hal-hal yang boros atau semua yang berbentuk kenikmatan dunia. Dan hasilnya NOL, ternyata saya tidak punya catatan tentang itu. Dengan berat hati saya rapikan kembali buku-buku itu.

Hingga tanpa sengaja ketika sedang menyeduh kopi dan God! Pahit sekali, karena belum diberi gula. Saat itulah saya menyadari sesuatu. Belanja merupakan bagian dari kesenangan dan Sedekah bagian dari ketidaksenangan. Mengapa begitu? Karena ketika orang belanja, orang akan mendapatkan kesenangan dan kegembiraan sehingga ketika mengeluarkan uang berapapun takkan pernah terasa. Sebab ada feedback secara langsung yang berbentuk entah itu barang ataupun kepuasan pikiran. Artinya, semua akan berefek secara langsung kepada pelaku “belanja” tersebut bukan orang lain atau melalui orang lain. Berbeda dengan menyumbang atau sedekah ataupun membantu orang lain, semua itu tidaklah berefek secara langsung saat itu juga dengan diri tersebut. Itulah kenapa orang berasa berat melakukannya.

Maka pada dasarnya semua bisa dipelajari. Mempelajari agar senang menyumbang atau sedekah dan membantu orang lain. Semua cara pandang manusia diatur oleh otak, dijalankan dan diturunkan ke hati hingga muncul apa yang namanya “perasaan”. Mempelajari semua titik berat di pikiran dan perasaan, merubah mind set yang buruk hingga menjadi lebih baik.

Mari kita belajar untuk tidak membedakan teman, tidak membedakan status, buang rasa iri yang tidak perlu untuk dirawat terus menerus. Karena membantu teman sebenarnya adalah kebutuhan alam bawah sadar kita sendiri. Ketika anda mencapai titik terdalam dalam berpikir dan mendapatkan cara pandang baik tentang hakikat berbagi, maka semua menjadi lebih terang buat anda, dunia tak lagi sempit. Akan terasa luas dan sangat luas. Masih ingat dengan teori “rantai makanan”?, nah didalam kehidupan kita, bukanlah rantai makanan yang seharusnya ada namun “rantai tangan” alias saling berpegangan tangan dan membantu. Sekali lagi, lakukan konversi pada cara berpikir yang jelek. Sadari betul kemampuan diri sendiri. Jadilah orang yang bisa merasa daripada orang yang merasa bisa.

Terus apa hubungannya dengan Kopi tanpa Gula?, silahkan cari sendiri jawabannya.

Salam kreatif.

Share

Tags: , , ,