Skip to content

Perjalanan Kika

Menjadi manusia yang bisa merasa bukan merasa bisa.

Salah satu trik yang sangat sederhana dan membuat para penyelenggara pemerintahan di Solo menjadi sangat efektif adalah, Jokowi mencantumkan nomor handphone pribadinya ke dalam kartu nama, dan ini disebarkan ke banyak orang. Sungguh strategi yang sederhana namun jitu

“Memindahkan orang-orang yang terbiasa hidup di jalan, jalanan atau mencari penghidupan di jalanan itu betul-betul sulit. Karena pikiran mereka atau cara berpikir mereka lebih cenderung merasa sebagai orang susah, jadi tidak mau lagi diajak susah-susah lagi, meskipun itu demi kebaikan bersama”, begitu terang Pak Jokowi. Walikota Solo yang sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur Jakarta ini. Beliau menerangkan perjalanan, kesulitan, rintangannya manakala memindahkan para pedagang di sebuah pasar di Solo menuju tempat yang lebih baik.

Iya, Jokowi. Sosok yang sedang ramai dibicarakan banyak orang. Dan kesempatan berharga yang saya dapat manakala bertemu beliau kemarin hari, benar-benar saya manfaatkan untuk menggali banyak hal dari Beliau. Seperti yang beliau ceritakan, bagaimana membangun komunikasi yang sederhana tanpa protokoler yang ribet, untuk membuat masyarakatnya menjadi nyaman berada di dekat beliau. Bahkan keinginan beliau adalah bisa sering ngopi bersama dengan banyak orang di Angkringan (= Warung nasi kucing khas klaten/Solo/Wonogiri/Jogja). Sayangnya waktu masih belum bisa memberikan kesempatan untuk melakukannya.

Sekali lagi, sebagai sosok pengusaha. Beliau mengargumentasikan (secara eksplisit) bahwa urusan ekonomi pribadi dan keluarganya, sudah selesai. Atau lebih mudahnya, gaji atau mungkin pendapatan lain sebagai walikota itu sudah bukan tujuan atau dijadikan tumpuan hidup. Karena, penghasilan dari perusahaannya sudah lebih dari cukup. Atas dasar itulah, Jokowi tidak mudah untuk tergoda dengan gemerlap kemewahan dan uang yang begitu banyak lalu lalang dalam perjalanannya mengelola Solo. Bahkan Jokowi mengatakan, ada milyaran lebih uang tersedia untuk kampanyenya (hasil dukungan dari Partai pengusung) namun beliau memilih untuk seminimal mungkin tidak menggunakannya.

Memang benar, bergaul dengan orang yang kaya itu lebih mudah dan menyenangkan. Karena disana ada banyak kesenangan atau hal yang tidak akan membuat diri kita berpikir keras untuk membantu atau harus memberinya uang. Namun tidaklah mudah untuk bergaul dengan orang yang taraf ekonominya rendah. Dan Jokowi berhasil melakukannya. Jokowi sering melakukan dialog, diskusi serta berkomunikasi secara langsung dengan masyarakatnya, terutama yang berekonomi rendah. Beliau tidak merasa sebagai walikota atau seorang pengusaha yang kaya, yang “hanya” berada dilingkungan pengusaha juga atau walikota lainnya. Tidak ada kesombongan yang membuat jarak dan batas tersembunyi antara penyelenggara pemerintah dan yang diaturnya.

Salah satu trik yang sangat sederhana dan membuat para penyelenggara pemerintahan di Solo menjadi sangat efektif adalah, Jokowi mencantumkan nomor handphone pribadinya ke dalam kartu nama, dan ini disebarkan ke banyak orang. Sungguh strategi yang sederhana namun jitu. Karena tentu bila ada pelayanan sebuah instansi yang merugikan masyarakat bisa langsung diadukan ke Jokowi. Sehingga memangkas birokrasi yang ada. (Seperti yang sudah saya sebut di artikel sebelumnya). Betul-betul strategi jitu. Dengan begitu, para pelayan masyarakat pun akan menjadi aware bahwa semua tingkah laku mereka bisa langsung sampai ke Jokowi bila mereka melakukan hal-hal yang merugikan masyarakat.

Kemampuan komunikasi dengan segala elemen, kemudian memahami kemauan atau keinginan masyarakat, menjadi pembeda atas karakteristik Jokowi dengan tokoh-tokoh lainnya. Beliau memahami, masyarakat sudah kesulitan mengurusi perut dan kesehatan serta pendidikan buat mereka. Maka tidak layak bila para pemimpinnya sibuk mengurusi perut masing-masing. Dan Jokowi mengatakan “Saya sudah pernah menderita seperti mereka-mereka Mas Kika, oleh karenanya saya tahu bagaimana mereka dan harus bagaimana menghadapinya”.

Pembicaraan ini ditutup dengan foto bersama, dan aku senang bisa mengenal satu dari sekian banyak tokoh yang hebat. “Saya berdoa, semoga apabila nanti Pak Jokowi terpilih disini (Jakarta), Anda masih tetap seperti (memerintah) di Solo bahkan bisa membuat Jakarta lebih teratur dan sesuai dengan keinginan banyak orang di Jakarta”. Salam saya sembari pamitan ke beliau. Sehingga tidak adalagi warga yang “harus” menggorok leher anaknya karena kesulitan ekonomi.

Ada pendapat sederhana dari Ahli Marketing terkenal di Indonesia, “Orang yang sudah memasuki taraf Ahli (sebenar-benarnya Ahli) maka dia bisa hidup dimanapun berada”. Kalau ditarik ke keberadaan Jokowi di Jakarta, maka Jokowi yang memang sudah ahli dibidangnya akan bisa menjalankan kehidupan visi dan misinya meski itu di Jakarta, dan beliau orang Solo.

Salam kreatif.

Tags: ,