Skip to content

Perjalanan Kika

Menjadi manusia yang bisa merasa bukan merasa bisa.

Trauma healing, sepertinya banyak yang tidak terpikir untuk melakukan itu. Rata-rata orang akan berpikir apabila terjadi bencana baik gempa, tsunami atau apapun, maka akan muncul bahan pangan dan sandang. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pikiran itu, namun setelah semua sandang dan pangan itu tercukupi kebutuhannya maka akan muncul masalah lain yaitu ketakutan akan kejadian yang berulang. Traumatik yang terjadi sering tidak tersentuh oleh banyak orang. Kecenderungan masih berpikir aksidental, praktis, ternyata menjadi keseringan yang berulang di banyak pikiran. Bahkan sarana jalan menuju lokasi juga terkadang menjadi bahan pertimbangan untuk memberikan bantuan. Contoh nyata adalah yang terjadi di Desa Cikangkareng Cianjur. Bantuan yang tersalurkan disana masih kalah jauh dengan yang ada di Tasik Malaya. Bahkan di Desa Sindang Barang sekitar 40km dari Desa Cikangkareng, bantuan sangat minim. Padahal kerusakan lebih besar terjadi disana.

Kembali ke Trauma Healing, akhirnya muncul juga Tim Trauma Healing di Desa Cikangkareng dengan bertempat di lokasi pengungsian. Didalam sebuah tenda yang diguyur panas, teman-teman dari Universitas Untirta Banten sukses melakukan Trauma Healing dengan sederhana namun tepat sasaran. Dengan tanpa perencanaan bahkan boleh dibilang nekad, trauma healing bisa berjalan dengan baik dan lancar. Begitu bahagia melihat senyum, tawa, malu dan terbahakbahaknya anak-anak melihat Badut serta Mbah Surip palsu tiba-tiba menyeruak mengitari tenda-tenda pengungsi.

Kemudian tak berapa lama, dengan diawali perkenalan akan teriakan “Kita semuaa…. BERGEMBIRA”, dimulailah kegiatan itu. Satu persatu jenis permainan tersuguhkan dengan mengajak anak-anak untuk turut serta dalam permainan yang dimainkan oleh temanku Alyth dan beberapa fasilitator yang dilakukan oleh Mahasiswa Untirta. Sungguh dahsyat, sekejap terlupakan semua kejadian yang sudah menimpa bahkan mungkin menghantui mereka, karena terbukti ada anak yang menggambarkan situasi longsor di desanya. Semua bergembira hari itu, tak terkecuali aku. Aku yang hanya bisa menahan haru dibalik keriangan anak-anak.

Hanya sungguh ironi, dalam keadaan seperti itu ternyata masih banyak orang yang memanfaatkan demi kesenanga pribadi. Begitu banyak orang yang lalu lalang hanya bertujuan wisata gempa. Tak luput aku catat ada beberapa klub motor yaitu Klub Motor Tiger & Klub Motor Thunder yang mampir ke lokasi untuk sekedar foto-foto disertai tanpa senyum sapa hangat saat melewati perkampungan disitu. Ada pula beberapa mobil dengan bertuliskan mobil distribusi bantuan gempa dari salah satu BUMN yang ternyata para pengemudi dan penumpangnya hanya bolak balik kesitu untuk foto-foto saja. Dengan artian, selesai mengirimkan bantuan maka bolehlah bersenang-senang meski itu diatas penderitaan orang lain. Tak luput juga seorang ibu-ibu yang mengatasnamakan LSM Cahaya H*** dari Bogor, ikut numpang jualan “pulsa” ditengah-tengah kegiatan Trauma Healing yang sedang dilakukan. Entah apa yang dikatakannya sama Pak Camat hingga beliaunya dengan mudah menyetop kegiatan yang sedang asyik dan mengasyikkan. Kemudian membagikan jajanan serta berusaha mengenalkan bahwa mereka akan memberikan beasiswa dll. Apa manfaatnya mengatakan itu pada anak-anak yang tidak tahu apa-apa? Sungguh dangkal daya pikir orang-orang ini. Sampai-sampai aku harus memberi isyarat pada temanku Alyth untuk tetap meneruskan kegiatan trauma healing tanpa memperdulikan aksi ibu-ibu dari bogor itu. Setelah itu beliaunya pun pergi untuk memasang spanduk dan foto-foto di depan spanduk.

Ah, begitu banyak di dunia ini orang hanya memanfaatkan penderitaan orang untuk kepentingan pribadinya. Meski harus aku akui itu semua tetap lebih baik dari pada orang-orang yang tidak melakukan apapun bahkan mungkin mati rasa akan semua ini dengan berbagai alasannya.

NB:
Terima kasihku untuk Dosen Alyth dan Teman-teman Universitas Untirta. Kita akan berjumpa lagi dalam waktu dekat.

Share

Tags: