Skip to content

Perjalanan Kika

Menjadi manusia yang bisa merasa bukan merasa bisa.

Bencana gempa rasanya belum mau berhenti dari sisi kita. Silih berganti mengunjungi setiap kamar dan pintu rumah setiap manusia tanpa permisi. Diawali dari Aceh tertanggal 26 Desember 2004, kemudian kunjungan berpindah ke Nias pada 28 Maret 2005. Tanggal 27 mei 2006 giliran Jogjakarta yang dikunjunginya, sedikit ada jeda kemudian Papua yang disambanginya tepat di 4 January 2009 pukul 4 pagi. Dan Jawa Barat pun tak luput serta akhirnya Sumatera Barat.

Bencana gempa rasanya belum mau berhenti dari sisi kita. Silih berganti mengunjungi setiap kamar dan pintu rumah setiap manusia tanpa permisi. Diawali dari Aceh tertanggal 26 Desember 2004, kemudian kunjungan berpindah ke Nias pada 28 Maret 2005. Tanggal 27 mei 2006 giliran Jogjakarta yang dikunjunginya, sedikit ada jeda kemudian Papua yang disambanginya tepat di 4 January 2009 pukul 4 pagi. Dan Jawa Barat pun tak luput serta akhirnya Sumatera Barat.

Begitu banyak yang tersisa dari perjalanan gempa yang mengitari Bumi Nusantara ini, terutama sisa-sisa trauma yang mendalam bagi korban gempa baik orang-orang tua, remaja mau pun anak-anak. Secara perhitungan psikologis, kondisi trauma orang tua [dewasa] masih lebih mudah untuk dipulihkan, begitu juga dengan para remajanya. Namun tidak begitu bagi anak-anak. Bilamana senyum anak-anak tiba-tiba terhenti dan melebihi batas waktunya, maka itu butuh sebuah pekerjaan yang sangat luar biasa untuk mengembalikannya. Mengembalikannya ceria, bandel dan tertawa lepas kembali.

Bagi anak-anak, masalah yang harus segera ditangani agar mereka kembali ceria adalah trauma terhadap guncangan yang mematikan itu. Maka dari itu, perlu diadakan tim trauma healing secepatnya bagi anak-anak, yakni suatu upaya untuk menyembuhkan anak-anak dari gangguan trauma.

Program untuk membantu menyembuhkan anak-anak dari trauma gempa dilakukan dengan beberapa cara. Pendekatan secara lebih anak-anak sangat dibutuhkan. Pengadaan perlombaan ringan, bermain membuat layang-layang, kembali mengingat untuk melukiskan impian dan juga teriak menghilangkan kepenatan pikir yang terjadi karena guncangan gempa. Semua cenderung bersifat permainan. Anak-anak diajak untuk melupakan semua yang terjadi dan sedang terjadi, agar jangan sampai terjadi semua hal tentang keterkejutan, ketakutan, kengerian itu terus membayang dipikirannya.

Dalam pandangan saya, ingatan terhadap detik-detik gempa itu memang tidak akan bisa dengan mudah dilupakan apalagi bagi anak-anak yang masih kuat daya ingatnya. Maka dengan Trauma Healing, bisa dimanfaatkan untuk lebih mewaspadai ke depan akan ciri-ciri gempa. Dan ingatan akan gejala gempa bisa menyelamatkan diri mereka kelak ketika terjadi gempa lagi. Selanjutnya setelah mereka menjadi besar dan dewasa kemudian mempunyai anak, mereka pun bisa menceritakan serta memberi cara antisipasi akan terjadinya gempa pada generasi penerusnya.

Rasanya bila melihat akan runutan serta runtutan pada kejadian-kejadian gempa ini, sudah selayaknya Departemen Pendidikan memasukkan peta daerah gempa ataupun hikayat gempa dalam pembelajaran kurikulum anak-anak sekolah. Agar usaha preventif dan kesiapan diri akan terjadinya gempa yang akan datang [semoga tidak] bisa di antisipasi.

Depok, 4 Oktober 2009
Sumber : Catatan Pribadi.

Share

Tags: ,