March 5, 2012 Ask yourself
Seringkali aku bingung menghadapi situasi yang serba tidak menyenangkan. Dimana tiba-tiba diri sendiri merasa tersudut tanpa tahu harus bagaimana. Semenjak dulu, aku sudah terbiasa menghadapi perjalanan hidup tanpa kejelasan. Namun tetap saja, aku bingung tiada tara manakala tahu ada sesuatu yang diluar kehendakku. Karena aku tahu, hanya Tuhan yang tahu.
Dulu, Mamanya Anakku tiba-tiba lebih suka pergi dan meninggalkan aku berdua dengan anakku. Dia cenderung mengikuti apa kata orang lain dari pada aku sebagai Papa dari Anaknya. Meski dia menengok sesekali anaknya dalam hitungan bulan. Aku banyak mengalah ketika aku mengatakan kepadanya “Ma, kembalilah ke anak kita”, dan dia tidak menjawab serta pergi menjauh. Tak berapa lama aku dengar, ternyata dia menjalin hubungan “lain” dengan atasan dikantornya.
Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia mudah meninggalkanku dan berpaling ke laki-laki lain? Berbagai pertanyaan muncul dipikiran ini. Berkecamuk, iya!. Sedih, sakit, berantakan dan segala macam perasaan tidak enak bersatu di pikiran dan hati. Tapi aku tidak pernah berupaya menanyakan kejadian atau sebab atau segala halnya kepada selingkuhannya. Karena aku sadar betul, perselingkuhan terjadi karena dua-duanya terlibat. Bukan cuma laki-laki itu yang salah, tapi Mama Anakku juga.
Oleh karenanya aku pun hanya berupaya mendiskusikannya dengan Mama anakku. Apa sebenarnya yang terjadi?, terus apa salahku hingga dia mudah meninggalkanku sedemikian rupa? Dan sepenuh hati, aku tidak punya pikiran untuk melarang perasaannya. Aku hanya bisa mengingatkan komitmennya tentang arti Keluarga yang dulu menjadi tujuan dalam diri kami.
Siapa orangnya yang bisa melarang perasaan orang lain untuk suka atau cinta kepada orang lain? Siapa orangnya yang sanggup menghentikan perasaan orang lain untuk tidak suka? Perasaan adalah sebuah element yang sulit untuk dinalar. Tak ada yang mampu kecuali dirinya sendiri. Dan bila Mama Anakku memang tidak berniat menghentikan hubungannya atau perasaannya, terus apa yang bisa aku lakukan?
Mungkin ada banyak kekurangan dalam diriku ini. Mungkin begitu banyak kelemahan didiriku ini. Mungkin juga ada ketidakmampuan dalam diriku yang bisa menyenangkannya. Sembari aku terus memperbaiki diri, aku biarkan dia pergi meninggalkanku dan anakku. Selalu aku tanyakan ke dalam diriku, apa salahku, apa yang harus aku perbaiki dan terus memperbaiki diri. Tanpa menyalahkan orang lain sedikitpun.
Dan beberapa hari yang lalu, seorang teman perempuan tiba-tiba meminta tolong untuk mencarikan arti dari karakter orang berdasar gambar tangannya. Karena memang aku sedang senggang dan kondisi istirahat, maka segera aku bantu untuk mencarikannya di google. Pikirku, tak ada salahnya membantu. Apalagi kata beliau, ini untuk ujian atau psycho test kenaikan jabatan di kantornya. Maka aku coba membantunya.
Ternyata itu adalah kesalahan. Dulu aku dan teman perempuan ini pernah satu kali ketemu. Dan sejak itu suaminya marah-marah. Aku terima kemarahannya yang ditujukan kepadaku itu untuk yang dulu, karena memang kondisinya aku yang butuh banyak informasi mengenai perbankan, mengingat beliau bekerja di sebuah Bank yang bonafit. Dan waktu dia juga memberiku banyak prospek untuk produk perbankan yang dia pegang.
Menjadi sebuah keheranan bagiku, bila ada sebuah hubungan rumah tangga yang berjalan dengan tidak mulus kemudian menyalahkan orang lain. Bahkan dengan hal yang sangat sederhana. Sudahkah mencoba untuk bertanya kepada diri sendiri? Apa yang salah? Kenapa Begitu atau Kenapa Begini? Dan hindarilah melibatkan orang lain dalam urusan pribadi kita. Begitu juga, bila ada sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Tanyakanlah pada diri sendiri terlebih dahulu. Bisa jadi semua yang terjadi justru dipicu oleh diri kita sendiri tanpa sadar.
Salam.
Artikel Terkait
- 2 comments
- Posted under Social
Permalink #
marsudiyanto
said
Trus garis tangannya Mas Kika cocokkah dengan yang perempuan tadi cari?
Permalink #
Kika Syafii
said
Pak Mar salah baca.